Bus Listrik Siap Menyapa Jakarta, Apa Plus dan Minusnya

Bus Listrik Siap Menyapa Jakarta, Apa Plus Minusnya?

Deru mesin diesel dan bau asap menyengat mulai menghilang dari jalanan Kota Shenzhen, Cina. Padahal sebelumnya, kabut yang terkurung di langit menjadi pemandangan umum sehari-hari. Sejak beberapa tahun terakhir, kota yang menghubungkan Hong Kong dengan daratan Cina ini telah jadi contoh bagi kota-kota di dunia tentang bagaimana caranya mengubah seluruh transportasi publik menjadi kendaraan berbasis listrik. Joseph Ma, Wakil Manajer Umum di Shenzhen Bus Group, salah satu dari tiga perusahaan bus terbesar di kota tersebut, mengatakan saat ini Shenzhen memiliki sekitar 16.000 bus listrik. Jumlah ini bahkan lebih besar dari bus listrik di New York, Los Angeles, New Jersey, Chicago, dan armada bus listrik Toronto bila digabungkan. Perkembangan bus listrik di Shenzen yang begitu masif, membuat kota jadi terasa lebih hening. “Kami mendapati bahwa bus-bus itu begitu sunyi sehingga orang mungkin tidak mendengar saat mereka datang,” katanya kepada The Guardian. “Faktanya kami telah menerima permintaan untuk menambahkan suara buatan ke dalam bus sehingga orang dapat mendengarnya,” kata Joseph. Selain berkurangnya polusi suara, menurut laporan The Guardian, Shenzhen mengalami penurunan emisi CO2 sebesar 48 persen dan pengurangan polutan seperti nitrogen oksida, hidrokarbon non-metana, dan partikel lainnya. Baca juga: Sandiaga Uno Kaji Tenaga Listrik untuk Bus TransJakarta Shenzhen Bus Group memperkirakan telah berhasil menghemat 160.000 ton batubara per tahun dan mengurangi emisi CO2 tahunan hingga 440.000 ton. Bahkan setelah berpindah dari energi fosil ke energi listrik, tagihan bahan bakar telah berkurang setengahnya. Langkah Shenzhen dalam mengurangi tingkat polusi udara dengan beralih ke bus listrik mulai dicontoh kota-kota besar lainnya. Misal di London, Inggris, jangan heran bila suatu hari Anda ke sana dan bertemu ‘bus merah’ yang hening tanpa suara melintas. Menurut media lokal Londonist, sejumlah rute bus di kota tersebut armadanya mulai diganti dengan kendaraan listrik. Walaupun belum banyak, kehadiran bus listrik pada empat rute di London itu merupakan cara untuk mengejar kualitas udara yang lebih baik. Meski begitu, peralihan dari bus konvensional menuju bus listrik tak semudah mengembalikan telapak tangan. Laporan World Resources Institute mengatakan, bus listrik berharga dua sampai empat kali lipat lebih mahal daripada bus konvensional. Bus listrik juga membutuhkan infrastruktur untuk mendukung pengisian daya yang konsisten. Di samping itu baterai mereka perlu diganti setidaknya sekali selama masa hidupnya, dan biaya penggantian baterai bisa mencapai setengah dari harga kendaraan.

Bus Listrik Lebih Efisien?

Ingar bingar gengsi bus listrik juga merambah kota di Indonesia, khususnya DKI Jakarta yang jaringan bus dalam kotanya sudah berkembang, antara lain TransJakarta. TransJakarta berencana menguji coba operasional bus listrik buatan PT Mobil Anak Bangsa (MAB) dan produk asal China yakni BYD Auto Co Ltd. "Unit yang sudah ada akan dilakukan pengujian sesuai regulasi. Jika memenuhi syarat, kami akan mengoperasikannya di jalanan Jakarta," ujar Direktur Utama PT Transjakarta Agung Wicaksono dikutip dari Antara. Agung Wicaksono, kepada Tempo menjelaskan berdasarkan riset yang dilakukan pihaknya, biaya perawatan untuk bus TransJakarta bertenaga listrik lebih rendah dari bus konvensional. “Secara teknis bentuk dan sebagainya semua hampir sama, namun komponen-komponen bus listrik ini, dari studi lebih rendah keperluan untuk perawatan dan biaya operasinya. Sehingga dalam jangka panjang akan membuat keseluruhan biaya dari pengelolaan bus akan lebih rendah,” kata Agung. Hal ini tentu saja menjadi angin segar bagi perusahaan bus yang ingin mengganti armadanya menjadi kendaraan listrik. Agung juga berujar, murahnya biaya perawatan akan menambal kekurangan utama dari bus listrik, yakni harga beli armada yang mahal. Ia juga mengatakan, untuk mendukung dimulainya era bus listrik di Indonesia, diperlukan kerja sama dari beberapa pihak. Sebagai tahap awal, uji coba mutlak dilakukan. “Karena itulah penyedia ini (perlu) bekerja sama dengan APM atau pihak lain yang punya kemampuan untuk merawat bus listrik, sehingga kita bisa mendapat solusi yang komprehensif,” katanya. Persoalan yang tak kalah krusial adalah tarif bus listrik, intervensi pemerintah dalam memberikan subsidi bisa menentukan keterjangkauan tarif bus listrik. Sebagai gambaran, melansir Paultan, di Kuala Lumpur Malaysia memiliki layanan bus listrik yang sudah beroperasi sejak 2015. Bernama Sunway BRT, bus listrik ini punya tarif 1,1 RM sampai 4,3 RM atau sekitar Rp3 ribuan hingga Rp14 ribuan untuk rute sepanjang 5,4 km dari daerah Sunway ke Subang Jaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Sementara jika dibandingkan dengan bus konvensional seperti TransJakarta yang sudah beroperasi sejak 2004, tarif kendaraan yang melewati jalur busway ini memang relatif lebih murah. Dari situs resmi TransJakarta, tarifnya dipatok Rp 2.000,- untuk jam 05.00 - 07.00 WIB. Sementara pukul 07.00 - 24.00 WIB, harganya Rp 3.500,-. Dan jam 24.00 - 05.00 WIB, dibanderol Rp3.500,-. Armada TransJakarta yang sebagian bertenaga gas sudah terintegrasi untuk semua rute. Jadi buat pengguna yang naik dari halte manapun tak dikenai biaya tambahan saat berganti koridor. Apakah bus listrik bakal jadi kenyataan di jalanan Jakarta? kita tunggu saja. 

Sumber:tirto.id/bus-listrik-siap-menyapa-jakarta-apa-plus-minusnya-dkWu